Wujudkan Merdeka Belajar dengan P5
SMA Raudhatul Muttaqin merupakan salah satu lembaga pendidikan tingkat menengah atas yang telah secara mandiri menerapkan kurikulum merdeka di sekolah sejak tahun ajaran 2022/2023. Salah satu hal yang mendasari hal tersebut ialah SMA Raudhatul Muttaqin meyakini bahwa merdeka merupakan salah satu hal yang perlu untuk dimiliki oleh setiap siswa agar siswa dapat selamat dan bahagia sesuai dengan prinsip yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia.
Salah satu bentuk perubahan yang paling mencolok dalam kurikulum merdeka ini ialah hadirnya sebuah program baru yaitu Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau yang lebih dikenal dengan P5. P5 adalah suatu upaya untuk mewujudkan Pelajar Pancasila yang mampu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, yaitu beriman dan bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebhinekaan global, gotong-royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Pada semester genap ini, siswa kelas X SMA Raudhatul Muttaqin melaksanakan dua tema P5 yaitu berekayasa dan berteknologe serta kearifan lokal. Masing-masing tema memiliki bentuk kegiatannya sendiri. Untuk tema pertama yaitu berekayasa dan berteknologi, kegiatan yang dilakukan ialah siswa melakukan penanaman tanaman sayuran secara konvensional dan hidroponik. Dalam hal ini siswa melakukan perbandingan keefektifan penanaman sayuran secara konvensional dan hidroponik untuk kemudian siswa melakukan analisis teknologi pertanian apa yang harus dilakukan sehingga kuantitas serta kualitas sayuran dapat meningkat dibandingkan dengan metode konvensional yang sudah biasa dilakukan. Siswa pun diharapkan dapat mempresentasikan hasil temuannya kepada khalayak umum sehingga dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Sedangkan untuk tema kedua dengan tema kearifna lokal. Projek kedua ini lebih dikenal dengan projek etnobotani karena dalam projek ini siswa mempelajari tentangĀ pemanfaatan berbagai macam tumbuhan secara tradisional oleh masyarakat daerah. Dalam projek ini siswa melakukan analisis kearifan lokal dari beberapa daerah dalam kaitannya dengan pemanfaatan tumbuhan secara tradisional yang kemudian hasil analisis ini dimuat dalam sebuah scrapbook. Informasi dalam scrapbook ini kemudian dibandingkan dengan temuan langsung di Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (MUNASAIN).



